Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling) :- peserta didik.

Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling)

SatuLagiCom:::
- Dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara peserta didik, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994).
- Teknik   ini   bisa   digunakan   dalam   pengajaran   membaca,   menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
- Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
- Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama. dan bahasa.
- Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif.
- Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
- Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar  belakang pengalaman peserta didik dan membantu peserta didik mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
- Dalam   kegiatan   ini,

peserta didik

dirangsang   untuk   mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah  pemikiran mereka akan dihargai, sehingga

peserta didik

merasa makin terdorong untuk belajar.
- Selain itu, peserta didik bekerja dengan sesama peserta didik dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
- Bercerita Berpasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia peserta didik.

CARANYA:
1. Pengajar membagi bahan pelaiaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan   pelajaran   untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang peserta didik ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata peserta didik agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya.   Yang   lebih   penting   adalah   kesiapan   mereka   dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
3. Peserta didik dipasangkan.
4. Bagian pertama bahan diberikan kepada peserta didik yang pertama. Sedangkan peserta didik yang kedua menerima bagian yang kedua.
5. Kemudian

peserta didik

disuruh membaca atau mendengarkan (dalam pelajaran di laboratorium bahasa) bagian mereka masing-masing.
6. Sambil membaca/mendengarkan, peserta didik disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frase bisa disesuaikan dengan panjangnya teks bacaan.
7. Setelah selesai membaca,

peserta didik

saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
8. Sambil   mengingat-ingat/memperhatikan   bagian   yang   telah dibaca/didengarkan   sendiri,   masing-masing   peserta didik berusaha   untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah   dibaca/didengarkan   pasangannya)   berdasarkan kata-kata/frasa-frasa   kunci   dari   pasangannya.   Peserta didik yang   telah membaca/mendengarkan   bagian   yang   pertama   berusaha   untuk menuliskan apa   yang   terjadi selanjutnya.   Sedangkan   peserta didik yang membaca/mendengarkan bagian, yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
9. Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengaiar. Setelah selesai menulis, beberapa peserta didik bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
10. Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca  kepada masing-masing peserta didik. Peserta didik membaca bagian tersebut.
11. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

Comments are closed.


The latest array of article spinner software.